Selasa, 20 Desember 2011

"inget satu hal" ujar sahabat baikku malem ini... "wong jowo yen dipangku mati"

ucapan itu sempat membuat seisi ruangan terdiam. Kata mati diakhir kalimat seperti tuas penarik keheningan tersebut. Aku hanyalah mahasiswa yang mencoba mengenal kebudayaan Jawa sejak usia muda, tapi pepatah itu benar-benar baru terdengar ditelinga ini

Setelah ditelusuri, asal dari munculnya kalimat tersebut adalah dari bahasa aksara Jawa. misalnya huruf ta disambung dengan na, bunyinya adalah tana. Tetapi jika na dipangku (diberi sandhangan pangkon), na akan menjadi huruf mati (tidak berbunyi) dan rangkaian tadi akan berbunyi tan. Gara-gara ciri spesifik dalam pakem penulisan huruf Jawa inilah sering orang Jawa kena sindir secara halus. Kata yang empunya cerita, orang Jawa kalau ”dipangku” akan ”mati”

Tetapi hal tersebut dapat dijadikan pepatah dalam hidup. Menurut Iman Budhi Santosa, 2009 >>

pemakaian kata ”dipangku” dan ”mati” bukanlah gambaran yang sebenarnya, melainkan kiasan belaka. Yang dimaksud ”dipangku” adalah keadaan seseorang yang dapat disamakan dengan bayi atau anak-anak yang didudukkan di pangkuan. Artinya, diberi kebaikan, disantuni, disuapi (dihidupi), dilindungi, disayangi, oleh orang lain. Dengan dipangku tersebut menunjukkan hubungan keduanya demikian dekat. Bukan sebatas fisik lagi, melainkan sudah merasuk sampai hati sanubari. Sebab, kenyataannya tidak sembarang orang akan ”dipangku”. Contohnya, mana ada ayam, atau itik, dipangku pemiliknya? Meskipun telur dan dagingnya lezat kalau disantap, mustahil mereka memperoleh kehormatan setinggi itu. Beda dari kucing atau anjing yang sering tidak hanya dipangku, tetapi sampai diperbolehkan tidur bersama majikan.

Dengan dipangku, biasanya hewan atau manusia akan menjadi jinak, penurut, tidak melawan, tidak merugikan yang memangku. Inilah yang diibaratkan dengan ”mati”, yaitu mbangun turut habis dengan yang memangku. Sampai-sampai tindak perbuatan pun hanya untuk memuaskan orang yang memangku (menyantuni hidupnya).

Soalnya, sedikit saja membuat ulah, biasanya perlakuan si pemangku akan berubah. Bayi saja kalau dipangku dan tiba-tiba ngompol pasti akan dikembalikan kepada ibu atau pengasuhnya. Berarti kebaikan yang diterima bukannya gratis, alias cuma-cuma. Kebaikan harus dibalas dengan kebaikan. Haram hukumnya sampai kabecikan winales kadurakan. Untuk itu, orang Jawa sangat tahu diri. Sangat menjaga diri.


Tetapi yang menjadi pembicaraan kita malam ini adalah ketika seseorang dipuji terlalu berlebihan yang sering terjadi adalah lupa pada daratan. Walaupun saya lebih suka dengan penjelasan Imam Budi Santoso dan merasa pepatah itu kurang pas dengan topik malam ini, tapi saya tahu benar satu hal yang ingin disampaikan sahabat saya malam ini.


Rendah Diri

Menjaga diri agar tetap berada ditatarannya.


Lika liku, perjalanan dan semua pengalaman yang diberikan Tuhan harus dimanfaatkan dengan baik, kesombongan yang menyebabkan kejatuhan sering terjadi bagi mereka yang terlalu sering dipuji karena kesempurnaan yang biasa mereka miliki. Hal yang membuat mereka lupa kalau diatas langit masih diciptakan langit oleh Tuhan.


Apapun itu, pembicaraan malam ini adalah ilmu dan motivasi baru dalam hidup saya. "Down to Earth" ungkap sahabat saya lagi. "memuji dan bangga terhadap sesuatu itu boleh, tapi bukan berlebihan"


>> didedikasikan untuk sahabat yang mau mendengarkan celotehan penuh makna malam ini (NS) <<


1 komentar: